fbpx

Suku Bunga The Fed Dovish: Dampak Global & Strategi Investasinya

Analisis suku bunga The Fed dovish dan pengaruhnya terhadap ekonomi global

Sebelum ke pembahasannya jangan lupa download gratis ebook 5 saham undervalue yang sudah kami analisa dengan klik gambar dibawah ini. Sudah banyak orang mendapatkan manfaat dari ebook ini dan sudah terbukti banyak orang mendapatkan keuntungan return investasi dari membaca ebook ini GRATIS.

Pengantar

Saat ini, kebijakanThe Fed masih menahan suku bunga di level 5,5% dan yang menarik adalah The Fed memberikan sinyal akan memangkas suku bunganya, tentu saja ini mendapat respon dari berbagai pihak, karena akan memberikan dampak terhadap keputusan kebijakan di negara-negara lain. Suku bunga The Fed ini naik sejak bulan Maret 2022, jadi adanya berita penurunan pastinya akan di respon oleh market. Oke, sebelumnya kita akan bahas dulu penjelasan secara umum terkait The Fed yang melakukan kebijakan dovish.

The Fed dan Kebijakan Dovish

Bank Sentral Amerika Serikat, atau The Fed mempunyai peran besar dalam penentuan arah kebijakan moneter yang tentunya memberikan dampak terhadap perekonomian Amerika dan bahkan ekonomi secara global. Dovish, adalah salah satu kebijakan moneter yang dilakukan The Fed, sikap dovish adalah kebijakan moneter yang mendukung dalam pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Dengan adanya kebijakan dovish ini nantinya akan ada kebijakan terhadap penurunan suku bunga yang lebih rendah. Dalam hal ini jika The Fed melakukan sikap dovish, ini salah satunya dikarenakan kondisi inflasi yang lebih rendah. Saat ini angka inflasi Amerika Serikat ada di angka 3,1% atau turun dari sebelumnya 3,2%, tentu saja ini angka penurunan yang cukup baik.

Read More  Analisis Saham PT Hartadinata Abadi (HRTA), Raih Perjanjian Kerjasama Ekspor di Awal Tahun 2024

Dampak Suku Bunga Rendah

Penurunan suku bunga yang rendah ini akan meningkatkan aktivitas perekonomian, dimana pinjaman masyarakat dan perusahaan bisa meningkat. Dampaknya ketika pinjaman masyarakat meningkat itu akan membuat tingkat konsumsi masyarakat naik dan tentunya banyak pelaku usaha akan diuntungkan dan perusahaan ini ketika bunga pinjaman yang rendah, maka ekspansi bisnis mereka bisa kembali berjalan, karena beban keuangan menjadi lebih rendah. Hal ini tentu saja bisa membuat peningkatan terhadap laju perekonomian, adanya kenaikan lapangan kerja baru, dan naiknya tingkat konsumsi.

Saat The Fed mengumumkan akan ada kebijakan dovish, biasanya pasar keuangan akan merespon dengan adanya kenaikan harga saham dan turunnya yield obligasi. Para investor ini lebih memilih untuk berinvestasi di instrumen yang punya risiko lebih tinggi, agar memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan dengan obligasi yang imbal hasilnya lebih sedikit. Saat ini, imbal hasil obligasi US 10 tahun juga turun berada di angka 3,9%.

Beberapa negara lain di bulan Desember 2023 ini juga masih mempertahankan suku bunganya, seperti Hong Kong yang saat ini masih menahan suku bunga di level 5,75% dan mengamati kebijakan lebih lanjut dari The Fed. India juga menahan suku bunga di level 6,5% hal ini untuk mencapai target level inflasi di angka 2-6%, untuk inflasinya bulan November 2023 di angka 5,55%, namun pemerintah India memperingatkan kemungkinan adanya kenaikan inflasi bulan Desember karena tekanan harga pangan. Kemudian Bangladesh posisi November 2023 menahan suku bunga di level 6,5% meskipun angka inflasi sudah berada di angka 9,49% yang ini turun dari sebelumnya 9,93%. Dan untuk Indonesia posisi Desember 2023 juga masih menahan suku bunga di level 6%, terdapat kenaikan angka inflasi menjadi 2,86%, namun angka ini masih cukup aman mengingat target inflasi Indonesia tahun 2023 ini berada di kisaran 3±1%.

Read More  Review Saham ARKO dan Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT)

Berbeda dengan negara China yang posisi November 2023 masih mengalami deflasi, meskipun angka deflasi di level 0,5% masih tergolong aman, akan tetapi jika angka deflasi ini semakin bertambah, itu cukup berbahaya untuk perekonomian China kedepannya karena melemahnya daya beli masyarakat. Jika kita lihat suku bunga China posisi Desember 2023 di level 3,45% ini merupakan level yang lebih rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat di level 5,5%. Jadi jika China kembali menurunkan suku bunga, ini bisa mempengaruhi pelemahan mata uang China, karena suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi akan menjadi menarik, membuat permintaan dolar lebih tinggi.

 

Respon Pasar

Bagaimana respon market saham dengan adanya hal ini? Kalau kita lihat ketika The Fed mengumumkan kebijakan ini pada tanggal 13 Desember 2023 di malam hari yang akan kembali menahan suku bunga di level 5,5% dan sekaligus menyampaikan suku bunga yang akan dovish, membuat IHSG di tanggal 14 Desember 2023 naik sekitar 1,4%. Tentu saja hal ini di respon positif oleh market Indonesia, sedangkan indeks saham di Amerika Serikat juga tercatat naik, seperti Dow Jones Industrial Average Index yang naik sekitar 1,38%, Nasdaq Composite Index naik 1,39%, dan S&P 500 juga naik 1,38%.

Kesimpulan

Sebagai penutup, dengan adanya kebijakan The Fed untuk memangkas suku bunga, ini menjadi sentimen positif terhadap perekonomian dan market saham, karena ketika perekonomian itu membaik, konsumsi dan investasi masyarakat akan meningkat dan banyak perusahaan bisa memperoleh dampaknya dengan pendapatan yang naik sehingga kinerja operasionalnya akan bagus kemudian akan membuat pasar saham menjadi lebih bergairah.

Paham lebih dalam mengenai investasi dengan mengikuti Program Value Investing Mastery yang kami adakan dengan cara klik gambar di bawah ini, raih kesuksesan finansial dan menjadi bagian dari kesuksesan investasi masa depan Anda.

Read More  Perbedaan Trading dan Investasi Saham Yang Perlu Anda Ketahui
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter