Daftar Isi
Toggle
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengalami eskalasi yang signifikan, meluas melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Eskalasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas perekonomian global khususnya pada pasokan energi yang terdampak. Perjalanan yang berakibat pada puncak eskalasi konflik ini sebetulnya cukup panjang bukan hanya dari satu atau dua tahun belakangan, bahkan bermula dari sebelum tahun 1979, dimana pada saat itu Iran dan AS-Israel masih memiliki hubungan yang relatif normal, saat Iran dipimpin oleh Shah yang pro Barat dari dinasti Pahlavi.
Namun setelah Revolusi Islam Iran 1979, semuanya berubah. Pemerintahan baru Iran menolak Barat dan menolak keberadaan Israel sebagai negara. Iran mulai memutus hubungan diplomatik AS-Israel. Pemutusan hubungan tersebut faktor dari program nuklir Iran, dimana Iran memiliki pengembangan kemampuan nuklir yang menurut negara Barat berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir. Namun Iran sendiri selalu menyangkal tujuan itu, tetapi kekhawatiran global tetap tinggi.
Hingga pada pertengahan 2025 lalu, konflik meletus antara Iran dan Israel yang kemudian memuncak pada akhir Februari 2026 kemarin, pasukan AS-Israel melancarkan serangan besar di wilayah Iran yang mayoritas terpusat di Tehran dan termasuk pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi ini ditujukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, serta fasilitas pengayaan uranium di Natanz. Hal ini menandai eskalasi konflik menjadi perang nyata antar negara. Iran membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah.
Bahkan Iran merespon akibat adanya serangan AS-Israel tersebut, secara resmi Iran menutup Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur ekspor minyak penting di dunia, yang menghubungkan produsen minyak terbesar di Teluk, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab, dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Kenapa Selat Hormuz menjadi inti nadi perekonomian global?
Selat Hormuz menjadi salah satu rute pelayaran terpenting di dunia dan titik krusial untuk transit minyak. Sekitar 20 juta barel atau hampir 20% dari total konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz setiap hari. Minyak tersebut tidak hanya berasal dari Iran, tapi juga dari negara-negara teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sisi geografis Selat Hormuz terbilang mempunyai kerentanan dengan area yang sempit dan kedangkalannya. Meski ukurannya sempit, selat tersebut cukup untuk dilalui kapal tanker minyak mentah besar di dunia, baik yang merupakan produsen minyak dan gas utama di Timur Tengah maupun para pelanggannya.
Tak heran jika adanya penutupan pada jalur pelayaran vital ini bisa merugikan negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor energi. Bahkan negara seperti Indonesia yang jaraknya cukup jauh pun bisa terdampak juga melihat impor minyak mentah Indonesia masih cukup besar yang berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz.
Jika dilihat per wilayah, Timur Tengah menjadi penyumbang kenaikan minyak terbesar. Produksi kawasan ini naik signifikan menjadi 32,7 juta barel per hari tahun 2030. Artinya, tambahan pasokan minyak dunia dalam beberapa tahun ke depan banyak bergantung pada negara-negara produsen besar di kawasan tersebut. Sementara Amerika Utara menjadi produksi terbesar kedua minyak dunia dengan proyeksi di tahun 2030 sebesar 29,2 juta barel per hari.
Dari sisi kualitas minyak, di Timur Tengah khususnya Iran mempunyai keunggulan kompetitif yaitu biaya ekstraksinya yang sangat efisien, hanya sekitar US$ 10 per barel. Sedangkan, produsen utama di negara Barat seperti Amerika Serikat dan Kanada umumnya menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, antara US$ 40 – US$ 60 per barel.
Lalu komoditas apa saja yang terdampak akibat eskalasi & penutupan Selat Hormuz?
Komoditas energi seperti minyak mentah baik Brent maupun WTI terdampak kenaikan harga akibat eskalasi konflik yang mengakibatkan penutupan jalur di Selat Hormuz. Dalam seminggu terakhir minyak Brent & WTI naik signifikan sekitar 17%, masing-masing di level $82 per barel dan $77 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut terjadi karena terganggunya pasokan di wilayah Timur Tengah akibat penutupan Selat Hormuz, dimana Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran vital dan krusial bagi perekonomian global yang menyumbang hampir seperlima total konsumsi minyak global.
Komoditas energi yang ikut terdampak kenaikan harganya yaitu batubara. Dalam seminggu terakhir harga batubara sudah melonjak sekitar 15% sempat di level $138 per ton dan akhirnya terjadi koreksi. Lonjakan ini dipicu penghentian langka fasilitas LNG Qatar serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong peralihan bahan bakar di sektor kelistrikan.
Selain itu Tiongkok, produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia, menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara baru untuk menjaga keamanan energi dan stabilitas jaringan listrik.
Gas alam berjangka eropa ikut terseret lonjakan harga yang signifikan, dalam seminggu terakhir naik signifikan sekitar 75% di level €55/MWh.
Selain terganggunya jalur transit di Selat Hormuz, lonjakan ini terjadi karena penutupan produksi di fasilitas LNG Ras Laffan, pusat ekspor LNG terbesar di dunia di Qatar, yang menyumbang hampir 20% dari pasokan LNG global.
Dengan di tutupnya pusat ekspor LNG terbesar di dunia tersebut membuat pasokan semakin terbatas, disisi lain demand masih kuat, dari situ terjadi lonjakan harga yang signifikan.
Emas kembali naik di tengah konflik Iran dengan AS-Israel yang sempat menyentuh di level $5.300an per troy ons. Namun pada selasa (3/3/2026) emas sempat koreksi dalam sekitar 4% karena dolar menguat akibat kekhawatiran kenaikan biaya energi yang dapat mendorong inflasi dan aksi taking profit. Tapi setelah itu emas kembali naik melihat masih memanasnya konflik Timur Tengah dimana emas di nilai sebagai hedging aset safe haven.
Sentimen perang yang memanas tersebut kembali memicu pergeseran arus dana global terutama ke aset-aset berbasis komoditas dan safe haven. Walaupun respon IHSG cukup buruk faktor eskalasi perang tersebut, dimana sempat drop hampir 10% dalam seminggu terakhir. Disisi lain ada saham-saham yang di untungkan dari adanya perang tersebut yang kenaikannya di dorong oleh faktor kenaikan komoditasnya, seperti sektor energi migas, batubara, emas, maupun sektor perkapalan.
SAHAM MIGAS
Kenaikan harga minyak dan gas berpotensi menjadi katalis positif bagi saham migas, terutama emiten yang memiliki eksposur produksi dan penjualan berbasis harga pasar global. Melihat komoditas energi minyak dan gas yang mengalami lonjakan signifikan, potensi perbaikan pendapatan dan margin menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku pasar. Beberapa saham emiten migas yang berpotensi diuntungkan seperti:
SAHAM BATUBARA
Saham batubara ikut menjadi perhatian di kala eskalasi geopolitik semakin memanas. Padahal beberapa waktu sebelumnya harga batubara cukup stagnan di level $110 per ton namun adanya konflik Iran dengan AS-Israel membawa harga batubara sampai pada level $138 per ton. Selain itu permintaan global masih tetap solid, terutama dari China yang masih menambah kapasitas pembangkit listrik berbasis batubara demi menjaga ketahanan energi, menjadi faktor penopang utama. Dengan harga batubara yang tinggi berpotensi memperkuat prospek pendapatan dan arus kas emiten batu bara. Beberapa saham emiten batubara yang berpotensi diuntungkan seperti:
SAHAM EMAS
Saham komoditas metal khususnya emas terdampak juga lonjakan yang cukup signifikan. Melihat ketegangan konflik perang semakin memanas, emas yang dipandang sebagai hedging aset safe haven kembali banyak di lirik oleh pasar. Beberapa saham emiten emas yang berpotensi diuntungkan seperti:
SAHAM PERKAPALAN
Saham perkapalan ikut tersorot imbas dari ketegangan Iran dengan AS-Israel. Ketegangan di kawasan Timur Tengah turut mendorong kenaikan biaya logistik dan premi asuransi pelayaran. Sejumlah emiten pengiriman mulai mengalihkan rute kapal untuk menghindari wilayah berisiko sekitaran Selat Hormuz, yang pada akhirnya meningkatkan tarif freight.
Kenaikan tarif angkutan laut ini menjadi katalis positif bagi emiten perkapalan, terutama yang bergerak di pengangkutan minyak, gas, dan komoditas energi. Jika lonjakan freight rate bertahan, potensi peningkatan pendapatan sektor ini juga semakin terbuka.
Beberapa saham emiten perkapalan yang berpotensi diuntungkan seperti:
Eskalasi konflik perang Iran dengan AS-Israel dinilai tidak hanya berdampak pada wilayah sekitar Timur Tengah saja, namun berpotensi juga bisa menimbulkan tekanan terhadap rantai pasok dan perekonomian dalam negeri. Konflik eskalasi tersebut juga mengakibatkan perusahaan produsen LNG terbesar milik negara Qatar, Qatar Energy, menghentikan produksi liquefied natural gas (LNG) setelah Ras Laffan terkena serangan drone.
Melansir dari International Energy Agency (IEA) pasar Asia menjadi tujuan utama LNG Qatar dan UEA. Pada tahun 2025, hampir 90% dari total volume yang diekspor melalui Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia, sementara pangsa Eropa hanya sedikit di atas 10%.
Proyeksinya pada tahun 2026, pertumbuhan konsumsi gas di negara-negara berkembang Asia salah satunya Indonesia diperkirakan meningkat sekitar 7%, didorong oleh pemulihan penggunaan gas di sektor industri & meningkatnya kebutuhan energi. Di tengah pasokan Timur Tengah yang di perketat dan permintaan Asia salah satunya Indonesia meningkat tentu ini menjadi tantangan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Selain gas alam, minyak mentah menjadi energi yang krusial melihat sebagian besar eskpor dari Selat Hormuz menuju Asia. Gangguan terhadap minyak mentah berdampak besar bagi pasar minyak. Lonjakan harga minyak yang sudah tercermin membuat kelangkaan fisik akan cepat terjadi jika gangguan tersebut berkepanjangan.
Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik berimbas bisa meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya yaitu peningkatan beban fiskal. Namun jika tidak di cover maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat. Apalagi inflasi tahunan Indonesia Februari 2026 meningkat menjadi 4,76%, mencapai level tertinggi sejak Maret 2023.
Dapatkan akses eksklusif ke Value Investing Mastery dan The Investor’s Portfolio untuk strategi investasi terbaik, analisis saham mendalam, serta peluang meraih bagger pertama Anda!
🔹 Analisis saham premium
🔹 Template kinerja portofolio
🔹 Kelas bulanan dengan mentor ahli
Gabung sekarang di 👉 valueinvestingmastery.id dan mulai investasi dengan lebih percaya diri! 🚀