fbpx

Regulasi UE terhadap Ekspor Sawit Indonesia

Temukan bagaimana regulasi UE mempengaruhi ekspor sawit Indonesia, strategi mitigasi yang tepat, dan potensi pasar baru. Cari tahu lebih dalam di artikel ini.

Sebelum ke pembahasannya jangan lupa download gratis ebook 5 saham undervalue yang sudah kami analisa dengan klik gambar dibawah ini. Sudah banyak orang mendapatkan manfaat dari ebook ini dan sudah terbukti banyak orang mendapatkan keungutngan return investasi dari membaca ebook ini GRATIS.

Dampak Kebijakan UE terhadap Industri Sawit Indonesia

Apakah Anda merasa terjebak dalam kemelut regulasi baru yang dikeluarkan oleh Uni Eropa (UE)? Terhitung sejak 16 Mei 2023, UE telah memasukkan sawit dalam Undang-undang anti deforestasi atau EU Deforestation-Free Regulation (EUDR). Langkah ini tentunya mempengaruhi ekspor komoditas strategis Indonesia dan turunannya, termasuk sawit, kayu, kopi, dan kakao.

Potensi Penurunan Ekspor

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Eddy Martono, dampak UU tersebut bisa mengakibatkan Indonesia kehilangan pasar ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya sebanyak lebih dari 3 juta ton setahun. Fakta ini memberikan tekanan bagi Indonesia untuk mengeksplor pasar baru, seperti Afrika, untuk menggantikan pangsa pasar Uni Eropa. .

Read More  Kisah Sukses Investasi di Saham MAPA: Bagaimana Saya Mengatasi Floating Loss dan Membeli di Tahun yang Tepat

UNI EROPA (UE) MASUKKAN SAWIT KE UU ANTI DEFORESTASI

Uni Eropa (UE) memasukkan sawit ke dalam Undang-undang anti deforestasi (EU Deforestation-Free Regulation/EUDR). Adanya Undang-undang tersebut bisa mempengaruhi ekspor produk komoditas Indonesia dan turunannya, seperti sawit, kayu, kopi, dan kakao. Undang-undang baru tersebut resmi berlaku pada 16 Mei 2023, yang sebelumnya sudah disetujui bulan April. UU ini diterapkan Uni Eropa untuk meminimalisir risiko dari penggundulan hutan.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, yaitu Eddy Martono, dampak dari UU tersebut akan menyebabkan Indonesia bisa kehilangan pasar ekspor CPO dan produk turunannya sebesar 3 juta ton lebih dalam setahun. Dengan demikian, Indonesia perlu untuk masuk ke pasar negara lain seperti Afrika untuk mengganti pasar Uni Eropa tersebut.

Sedangkan menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, yaitu Gulat Medali Emas Manurung, Indonesia tidak perlu ikut campur dalam UEDR. UU tersebut digunakan Uni Eropa untuk melindungi petani nabati di 27 negara.

Dan yang harus dilakukan Indonesia adalah memperluas pasar, negara yang berpotensi menjadi tujuan ekspor menggantikan Uni Eropa adalah Afrika. Indonesia juga harus bisa menyerap hasil sawit di dalam negeri dengan berbagai produk turunannya. Akan lebih baik jika tidak menjual CPO atau minyak sawit mentah secara langsung, tetapi menjual produk turunannya. Karena hal tersebut bisa memberikan keuntungan yang lebih besar.

Saat ini Indonesia juga sedang melakukan program B30, B35 hingga B40. Program tersebut memanfaatkan turunan sawit menjadi bahan campuran solar, yang akan menghasilkan bahan bakar nabati, biodiesel.

UU ini akan memiliki dampak terhadap produk yang diekspor ke Eropa. Komoditas yang akan memperoleh dampak tersebut seperti minyak sawit, kayu, kopi, kakao, kedelai, dan lain-lain. Produk turunan seperti cokelat, kertas cetak, dan furnitur juga akan terdampak.

Read More  ACES Alami Pertumbuhan Bisnis, Targetkan Buka 10-15 Gerai Baru

Dari data yang diperoleh di Kontan, ekspor ke Uni Eropa pada tahun 2022 sebesar 2,05 juta ton. Angka tersebut sebesar 8,19% dari total total ekspor CPO indonesia sebesar 25,01 juta ton.

Dari data tersebut bisa diambil kesimpulan, meskipun nilainya 8,19% dari total ekspor CPO hal tersebut tetap akan memberikan dampak, sehingga perlu menambah pasar ekspor CPO ke negara lain seperti Afrika ataupun negara potensial lain. Sehingga ekspor yang dilakukan tetap berjalan dengan normal, bahkan bisa ada kenaikan nilai ekspor, yang dampaknya akan memberikan efek positif terhadap perekonomian dalam negeri.

Menghadapi Perubahan dengan Siap

Kini, Anda mungkin sudah mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai dampak UU UE terhadap industri sawit Indonesia. Langkah selanjutnya? Mulailah menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan ini. Salah satu caranya adalah dengan memperkaya pengetahuan dan keterampilan Anda melalui program Value Investing Mastery. Klik gambar di bawah ini untuk bergabung sekarang juga. Bersiaplah meraih peluang baru di tengah perubahan.
 

Disclaimer : Informasi yang disediakan dalam artikel ini dimaksudkan untuk tujuan pendidikan dan informasi saja, dan bukan dimaksudkan sebagai saran investasi. Sebelum membuat keputusan investasi, harap konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional. Anda bertanggung jawab atas semua keputusan investasi yang Anda buat.

Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter
Kinerja MDKA Q1 2024 Cetak Rugi, Apa Penyebabnya?

Kinerja MDKA Q1 2024 Cetak Rugi, Apa Penyebabnya?

Pelajari penyebab kerugian saham MDKA Q1 2024 dan prospek ke...

Read More  Mengenal Batasan Auto Reject Bawah (ARB) dan Perubahan Jadwal Perdagangan di Bursa Efek Indonesia
Read More