fbpx

Panduan Membaca Aset Perusahaan Beserta Contoh Sahamnya

Telusuri cara membaca aset perusahaan melalui analisis laporan keuangan saham-saham berikut ini

Sebelum ke pembahasannya jangan lupa download gratis ebook 5 saham undervalue yang sudah kami analisa dengan klik gambar dibawah ini. Sudah banyak orang mendapatkan manfaat dari ebook ini dan sudah terbukti banyak orang mendapatkan keuntungan return investasi dari membaca ebook ini GRATIS.

Panduan Membaca Aset Perusahaan: Contoh Perusahaan SIDO dan JSMR


Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap aset perusahaan menjadi kunci utama untuk menilai kesehatan keuangan suatu perusahaan. Artinya, semakin sehat perusahaan yang kita miliki, maka semakin tenang untuk kita menghold-nya. Jadi, tidak ada kekhawatiran apakah nanti sahamnya di suspend gara-gara perusahaan tidak bisa bayar utang dan sebagainya, inilah fungsi utama aset. Jadi, aset untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan dan untuk diri kita sendiri adalah untuk ketenangan, apakah kita tenang untuk menghold saham-saham dengan kondisi kesehatan seperti yang tertera dalam aset perusahaan. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai panduan membaca aset perusahaan.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam kita membaca aset perusahaan? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama yaitu lihat total aset, dan bandingkan antara aset lancar dengan aset tidak lancar. Fungsinya untuk kita mengetahui tipe likuiditas perusahaan ini seperti apa, apakah perusahaan yang kita pegang ini adalah perusahaan capital intensive atau capital efficient. Aset lancar adalah aset likuid, dalam artian aset yang akan berubah menjadi kas, sedangkan aset tidak lancar adalah aset yang tidak likuid, alias fungsinya untuk penunjang aset lancar, maksudnya semakin besar aset tidak lancar perusahaan, maka bisa kita simpulkan bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan capital intensive, butuh modal besar untuk menjalankan kinerja operasional perusahaan. Itu ketika kita melihat aset tidak lancar suatu perusahaan itu besar, berbeda kalau misalkan porsinya imbang antara aset lancar dan aset tidak lancar, berarti perusahaan makin likuid atau tipe capital efficient, dimana perusahaan tidak butuh modal besar untuk melakukan kegiatan operasional-nya.

Read More  Kenapa Harus Value Investing

Berikut ini beberapa contohnya:

Saham SIDO pada tanggal 31 Desember 2022, total asetnya sebesar 4 triliun, dimana aset lancarnya 2,1 triliun, dan aset tidak lancar 1,8 triliun. Jadi ini menarik sekali, artinya SIDO ini termasuk perusahaan yang likuid, kas-nya sendiri sebesar 923 miliar, hampir sekitar 25% dari total aset perusahaan berupa kas, jadi sangat likuid sekali. Dari sini bisa kita lihat, aset tetapnya hanya 1,6 triliun dan itu menghasilkan 2,1 triliun perputaran, ibaratnya total aset lancar 2,1 triliun, artinya angka ini adalah angka yang nantinya akan terkonversi menjadi kas perusahaan, berarti bisa kita simpulkan bahwa SIDO ini termasuk perusahaan capital efficient, tidak perlu modal besar untuk menjalankan perusahaannya.

Berbeda dengan JSMR, posisi September 2022 total asetnya sebesar 100 triliun, aset tidak lancarnya 90,5 triliun, aset lancar hanya 9,9 triliun saja. Jadi tidak sampai 10% aset lancar dibandingkan dengan total aset perusahaan. Jadi, JSMR ini adalah perusahaan capital intensive, butuh modal besar untuk menjalankan kegiatan operasionalnya atau untuk ekspansi, bisa kita bayangkan JSMR ini rajanya jalan tol di Indonesia. Gambaran bisnisnya adalah perusahaan ini membangun jalan tol pasti butuh modal yang besar, dan setelah jalan tol selesai, tidak serta merta langsung BEP (Break Even Point), dia harus menunggu waktu sampai project jalan tol tersebut akan BEP, disisi lain perusahaan dituntut untuk ekspansi, maka mau tidak mau perusahaan butuh leverage berupa hutang. Beda dengan SIDO, dalam kegiatan operasionalnya untuk ekspansi tidak memerlukan modal yang besar. Jadi dari sisi risiko lebih kecil SIDO dibandingkan JSMR, karena aset likuidnya itu sangat besar porsinya, bukan nilainya.

Read More  Strategi Bangun Portfolio dari Modal Besar vs Mulai dari Nol

Dari perbandingan di atas, kita dapat menarik kesimpulan yaitu:

  1. Semakin besar aset lancar, maka makin likuid perusahaan atau bisa kita sebut sebagai capital efficient company, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan modal kecil untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.
  2. Semakin besar aset tidak lancar, maka makin perlu banyak modal untuk ekspansi artinya ini adalah jenis perusahaan capital intensive. Untuk ekspansi kadang perlu leverage besar.

Dalam membaca aset perusahaan, beberapa hal yang perlu diperhatikan kita perlu pelajari pos terbesar dalam aset perusahaan, biasanya aset perusahaan itu pos-pos terbesarnya untuk aset lancar itu tiga hal yaitu kas, persediaan, dan piutang. Kemudian untuk aset tidak lancar, biasanya aset tetap yang paling besar, jadi disitu kita pelajari. Kas artinya likuiditas perusahaan sangat bagus sangat besar, kemudian piutang jadi kalau misalkan di dalam piutang itu ada pos yang nilainya sangat besar, kita harus cek berapa umurnya, ada potensi piutang tertagih atau tidak, yang ketiga ada persediaan, jika persediaan semakin lama makin banyak, apakah tanda-tandanya barang dagangan dari perusahaan tersebut menumpuk, dalam artian barangnya sudah mulai tidak laku. Kemudian yang keempat, jika yang besar adalah aset tetap, apakah ada aset yang berpotensi terbengkalai, alias asetnya menjadi aset yang tidak berguna, tidak bisa menunjang operasional perusahaan, sehingga hanya akan membuat rugi perusahaan.

Jadi disini kita perlu cek CALK (Catatan Atas Laporan Keuangan). Misalkan kita membuka laporan keuangan, biasanya nanti ada CALK yang ditandai dengan notes angka, yang bisa kita pelajari lebih lanjut.

Dengan memahami aset perusahaan, kita dapat mengoptimalkan keputusan investasi. Apakah Anda tertarik untuk mendalami lebih lanjut? Bergabunglah dengan Program Value Investing Mastery dan raih kesuksesan finansial Anda. Klik gambar di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Read More  Suku Bunga The Fed Dovish: Dampak Global & Strategi Investasinya
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter