Market Outlook Tahun 2026, Sektor Apa yang Menarik?

Pergerakan IHSG Tahun 2025

Sepanjang tahun 2025 IHSG berhasil mencatatkan kenaikan cukup tinggi yang mencapai 22,13%, bahkan kenaikan IHSG pada tahun 2025 ini menjadi kenaikan tertinggi dalam satu tahun sejak tahun 2015. Dimana IHSG pada akhir tahun 2025 ditutup pada level 8.646,938, dan sempat mencapai level tertingginya mencapai 8.776,97 pada 11 Desember 2025. Lalu bagaimana tahun 2026 ini, apakah IHSG ada potensi lanjut naik lagi, dan sektor apa yang menarik?

Kalau kita lihat bahwa kenaikan IHSG sepanjang tahun 2025 lebih terdorong oleh saham-saham dengan valuasi yang tinggi, seperti DSSA, DCII, BRPT, dan sebagainya. Dimana tahun ini masih disebut sebagai tahun era konglomerasi, karena banyak saham milik konglomerat Indonesia yang naik tinggi. Tapi karena kenaikan tersebut membuat valuasi harga sahamnya menjadi terlalu tinggi. Sedangkan emiten yang masuk dalam indeks LQ45 banyak yang mengalami penurunan dan menjadi pemberat pergerakan IHSG, sahamnya ada BBCA, BBRI, BMRI, AMRT, dan sebagainya. Indeks LQ45 sendiri dianggap banyak orang sebagai indeks yang berisi perusahaan dengan fundamental bagus. Tapi meskipun dianggap sebagai acuan berinvestasi dengan fundamental bagus, tetap harus analisis lagi dari awal apakah benar-benar perusahaan tersebut masih murah dan punya kinerja bagus.

 

Dari penjelasan tersebut, kita harus melihat kira-kira faktor apa yang akan membuat saham-saham LQ45 kembali mengalami kenaikan. Hal ini kemungkinan besar akan terdorong oleh ekonomi dan daya beli masyarakat yang membaik, apalagi perbankan sangat terkait dengan hal tersebut. Jadi kalau misalnya ekonomi dan daya beli masyarakat tahun 2026 benar-benar bisa membaik, maka ada potensi IHSG lanjut naik lagi karena ada potensi emiten yang masuk LQ45 bisa kembali naik harga sahamnya, hal ini juga harus didukung dengan emiten valuasi harga saham tinggi masih bisa bertahan, karena kalau misalnya pada jatuh, ada potensi IHSG ikut jatuh juga karena beberapa emitennya masuk top 10 market cap dan pastinya punya bobot besar bagi penurunan IHSG.

Tren Suku Bunga Turun dan Kebijakan Stimulus Pemerintah

Terkait ekonomi yang berpotensi membaik ini akan didorong oleh suku bunga yang dalam tren turun, dimana pada tahun 2025 The Fed telah melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali dari sebelumnya sebesar 4,5% menjadi 3,75%. Kemudian tahun 2026 diproyeksi oleh pasar ada dua kali pemangkasan suku bunga, ini terjadi setelah inflasi AS yang melambat menjadi 2,7% dan data tenaga kerja yang melemah seperti NFP serta tingkat pengangguran.

Kondisi ini akan menjadi kabar positif bagi ekonomi global salah satunya Indonesia, karena memiliki ruang untuk ikut memangkas suku bunganya, faktornya karena tekanan pada rupiah menjadi berkurang, untuk tahun 2025 ini Bank Indonesia telah memangkas suku bunganya sebanyak lima kali dari 6% menjadi 4,75%. Dimana setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga, ini bisa mendorong daya beli masyarakat, karena suku bunga yang dipangkas akan membuat bunga pinjaman turun, sehingga akan meningkatkan pinjaman kredit masyarakat untuk konsumsi dan pengembangan bisnis, ataupun dilakukan perusahaan besar untuk ekspansi bisnis misalnya bangun pabrik. Kalau banyak yang bangun pabrik, pasti butuh tenaga kerja baru, akhirnya banyak masyarakat yang akan dapat income.

Tidak hanya tren suku bunga turun, pada akhir tahun 2025 juga ada beberapa kebijakan positif yang dilakukan Pemerintah Indonesia, seperti pinjaman sampai Rp276 triliun ke bank himbara, dimana hal ini meningkatkan peredaran uang di masyarakat yang membuat daya beli berpotensi membaik. Kemudian juga ada bantuan langsung tunai (BLT) sekitar Rp30 triliun yang juga bagus karena kebutuhan pokok bisa tercukupi, dilain sisi pemasukan dari gaji atau bisnis bisa dibelanjakan untuk barang lain yang bisa memutar roda perekonomian. Tidak hanya itu, juga ada potensi bahwa tahun 2026 nanti untuk tarif PPN akan diturunkan.

Dengan prospek yang cukup cerah untuk tahun 2026, ada beberapa sektor yang menurut kami bisa diuntungkan, yakni:

Perbankan:

Ketika suku bunga turun, maka perbankan akan sangat diuntungkan. Kenapa? Karena kalau kita lihat model bisnis perbankan, mereka ini kalau ingin dapat pendapatan bunga, harus menyalurkan pinjaman kredit ke masyarakat, tapi sebelum menyalurkan pinjaman ini perbankan harus punya dana dulu, dimana dana ini diperoleh dari masyarakat lain yang menaruh dananya di perbankan, misalnya deposito, giro, dan tabungan.

Tapi tidak mungkin juga, masyarakat hanya akan menaruh uangnya begitu saja kalau tidak ada keuntungannya, jadi disini ada bunga per tahun yang dibayar bank ke masyarakat, dan ini jadi beban bunga bagi perbankan. Dimana kalau kita naruh uang kita di deposito bank maka kita akan dapat bunga per tahun sekitar 2,5% untuk bank besar seperti BRI, Mandiri, dan BNI. Bunga yang harus dibayar perbankan ini akan menjadi beban kalau nantinya semakin besar, kenapa bunganya bisa tambah besar? Karena mengikuti suku bunga acuan, jadi ketika sebelumnya suku bunga Bank Indonesia naik, beban bunga perbankan juga naik yang menggerus margin pendapatan bunga bersihnya. Tapi karena sekarang suku bunga The Fed dan BI dalam tren turun, ini menjadi kabar positif bagi perbankan karena beban bunga akan menurun.

Kemudian penurunan suku bunga sendiri juga bagus karena bisa mendorong penguatan ekonomi, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang sudah dijelaskan sebelumnya, pastinya juga berpotensi mendorong pinjaman kredit dari perbankan. Ketika pinjaman kredit naik, maka pendapatan bunga akan ikut naik, dilain sisi beban bunga makin rendah, ini akan sangat bagus bagi perbankan.

Apalagi yang tidak kalah penting adalah CKPN atau cadangan kerugian penurunan nilai, kalau kita lihat kenapa laba bersihnya BBRI turun sepanjang tahun ini adalah karena naiknya CKPN ini, dimana CKPN sendiri merupakan cadangan kerugian yang dilakukan perusahaan karena ada potensi nasabah-nya gagal bayar pinjamannya. Jadi sebelumnya BBRI sudah kasih pinjaman ke nasabah, karena nasabah ada yang potensi tidak bisa bayar pinjamannya faktor ekonomi yang kurang bagus dan sebagainya, membuat BBRI harus mencatat cadangan kerugian karena sudah memberikan pinjaman. Ketika nanti ekonomi membaik, maka ada potensi CKPN ini mulai turun, karena nasabah yang potensi gagal bayar makin sedikit.

Properti


Biaya kredit kepemilikan rumah (KPR) akan makin menjadi terjangkau ketika suku bunga turun, kondisi ini berpotensi akan membuat permintaan rumah naik. Apalagi jika ekonomi secara keseluruhan bisa membaik.

Perlu kita ketahui kalau pada tahun 2025 ini cukup banyak emiten properti yang kinerjanya cukup tertekan, contohnya seperti BSDE dan SMRA, yang keduanya mencatat penurunan pendapatan masing-masingnya sebesar 13% dan 15%, sedangkan laba bersihnya turun hingga 50% dan 41%.

Penyebab penurunan kinerja ini berasal dari melemahnya daya beli masyarakat, dengan kondisi ekonomi seperti ini masyarakat akan memprioritaskan memenuhi kebutuhan untuk makan dan yang mendesak terlebih dahulu daripada melakukan cicilan yang risikonya tinggi, jika banyak yang mikir seperti ini tentu saja penjualan properti akan lesu.

Jika kita lihat indeks harga properti hunian di Indonesia juga melemah pada tahun ini, hal ini disebabkan karena melemahnya daya beli masyarakat dan banyaknya PHK, bahkan level indeks harga tersebut saat ini lebih rendah dibandingkan ketika pandemi covid-19 kemarin tahun 2020 – 2021.

Harapannya dengan suku bunga rendah membuat bunga KPR turun, dilain sisi ekonomi harapannya bisa bertahap membaik yang akan kembali mendorong penjualan rumah di Indonesia, pada akhirnya bisa mendongkrak pendapatan dan laba bersih emiten properti.

Consumer Goods & Ritel

Kedua sektor ini kami jadikan satu pembahasan karena efeknya tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Seperti penjelasan sebelumnya, ketika suku bunga turun, ini akan membuat ekonomi membaik dan daya beli masyarakat menguat, penjualan perusahaan sektor ini akan diuntungkan karena konsumsi masyarakat yang naik.

Perlu kita ketahui dan mungkin kita rasakan juga bahwa sekitaran kita banyak UMKM yang mengeluh karena penjualannya sepi, dan secara data indeks keyakinan konsumen Indonesia juga menunjukkan kalau tahun ini berada di level yang rendah kalau dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Bahkan pada bulan September 2025 mencapai 115 poin, paling rendah sejak Mei 2022, sehingga kondisi ini juga menekan harga saham perusahaan ritel dan consumer goods di Indonesia.

Ketika nanti ekonomi membaik maka, sektor ini akan sangat diuntungkan, apalagi bagi emiten ritel yang dia fokus dalam pembangunan gerai baru. Dimana pembangunan gerai baru ini membutuhkan modal besar sehingga sebagian perusahaan harus mencari pinjaman baru, jika bunga pinjaman tersebut makin rendah maka beban bunga yang harus ditanggung juga ikut turun, efeknya akan positif bagi margin laba perusahaan. Dilain sisi penjualannya juga bisa meningkat ketika ekonomi membaik.

 

Pergerakan Harga Saham 4 Sektor Menarik 2026

Jika kita melihat harga saham dari 4 sektor menarik sepanjang tahun 2025, maka banyak yang turun. Bahkan kalau melihat dari 4 big bank hampir turun semua, kecuali BBNI yang naik tipis 0,5%, kemudian ada BRIS yang turun hingga 18%, padahal kinerja beberapa emiten ini masih bagus, seperti BBCA yang mencatat kenaikan laba bersih posisi 9M 2025 sebesar 6%, sedangkan BRIS juga mencatat kenaikan laba bersih sebesar 9% secara yoy.

Kemudian emiten properti juga banyak turun, seperti BSDE, SMRA, CTRA dan DILD. Kinerja emiten properti memang beberapa diantaranya sedang terjadi penurunan kinerja juga, makanya harga saham ikut turun.

Ada juga perusahaan ritel dan consumer goods, yang banyak juga sahamnya mencatatkan penurunan. Kalau ritel contohnya ada MAPA yang harga sahamnya turun 37%, padahal kinerja laba bersihnya masih naik 5%. Kemudian sektor consumer goods ada SIDO yang laba bersih 9M 2025 sebenarnya naik 5%, tapi harga saham masih turun 8%.

Ketika nanti kinerja emiten dari 4 sektor ini mulai membaik atau tambah naik, dan ekonomi juga berangsur membaik, maka ada potensi harga sahamnya bisa kembali menguat, tapi pastikan dulu gimana kondisi fundamental secara keseluruhan sebelum beli sahamnya.

Ingin Analisis Mendalam & Strategi Investasi yang Lebih Tajam?

Dapatkan akses eksklusif ke Value Investing Mastery dan The Investor’s Portfolio untuk strategi investasi terbaik, analisis saham mendalam, serta peluang meraih bagger pertama Anda!

🔹 Analisis saham premium
🔹 Template kinerja portofolio
🔹 Kelas bulanan dengan mentor ahli

Gabung sekarang di 👉 valueinvestingmastery.id dan mulai investasi dengan lebih percaya diri! 🚀

Merupakan platform belajar Investasi tumbuh dengan tenang yang dapat di akses kapanpun dan dimanapun tanpa ribet. Dapatkan return investasi yang maksimal dengan strategi yang tepat.
The Investor

© 2025. All rights reserved

PT Indonesia Investa Origa- Tegalmulyo WB I/189B Pakuncen Wirobrajan Yogyakarta – +6285155441861