Kinerja SIDO Q3 2025 Membaik, Ini Peluang Sahamnya

PERGERAKAN HARGA SAHAM

Harga saham SIDO tahun 2022 pernah mencapai level tertingginya sebesar Rp1.070 per saham, dimana waktu itu terdorong oleh kinerja laba bersih perusahaan tahun 2021 yang mencapai level tertingginya. Akan tetapi harga saham SIDO berangsur menurun sampai saat ini, bahkan sempat menyentuh level 478, hal ini terjadi karena sebelumnya kinerja laba bersih SIDO yang turun, dan saat ini kinerjanya berangsur membaik tapi harga sahamnya belum ada kenaikan signifikan yang ditutup pada level 555. Harga saham saat ini belum sebanding dengan kinerja laba yang sudah pulih, sehingga disini menjadi sebuah peluang untuk bisa dimanfaatkan karena harga saham yang masih dibawah, kalau kita hitung selisih dengan harga all time high-nya tadi, maka ada potensi kenaikan harga saham mencapai 93% dari harga saat ini. Kondisi ini tentu saja berpotensi tercapai kalau kinerja perusaahaan sudah membaik, emang bagaimana update kinerja SIDO terbarunya?

Profil Perusahaan

SIDO atau dengan nama perusahaan PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) didirikan sejak tahun 1951. Dimana waktu itu didirikan oleh Bapak dan Ibu Rakhmat Sulistio, yang mana pada awalnya perusahaan ini memulai bisnisnya sebagai industri jamu rumahan. Produk andalannya sendiri adalah jamu seduh Tujuh Angin, yang menjadi jamu pencegah dan pengobatan ketika masuk angin. Jamu ini dikemas dengan komersil yang megnggunakan merek dagang Tolak Angin yang kita kenal sampai saat ini. Dengan bisnis yang berkembang, pada tanggal 18 Desember 2013 SIDO mencatatkan sahamnya di bursa.

Jika kita melihat dari laporan keuangan posisi 30 September 2025, pemegang saham terbesar SIDO adalah PT Hotel Candi Baru dengan kepemilikan mencapai 77,59%. Beberapa manajemen SIDO juga mempunyai kepemilikan saham ini, akan tetapi persentase kepemilikannya sedikit. Untuk kepemilikan dari masyarakat sebesar 20,77%, dan juga ada saham treasuri sebesar 1,6% karena SIDO yang tahun 2025 ini melakukan buyback saham.

Hingga posisi kuartal ketiga tahun 2025, perusahaaan mempunyai lebih dari 300 jenis atau varian produk. Dimana perusahaan mempunyai tiga segmen bisnis, dengan mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari segmen herbal dan suplemen dengan kontribusi pendapatan perusahaan sebesar 59%, produk untuk segmen ini seperti Tolak Angin, Tolak Linu, dan sebagainya. Selanjutnya ada segmen makanan dan minuman dengan kontribusi sebesar 38%, produknya seperti KukuBima. Sisanya dari segmen farmasi dengan kontribusi 3%, disini produknya seperti Anacetine Sirup dan Inflasone.

Perusahaan sendiri saat ini terus gencar dalam memasuki negara baru dalam hal penjualan produknya, dimana pendapatan ekspor posisi sembilan bulan tahun 2025 mencapai 9,7% secara kontribusi terhadap total pendapatan SIDO, selalu naik kontribusinya dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Pendapatan ekspor-nya sendiri naik sebesar 23% secara yoy, yang dijual ke 34 negara. Dimana penjualan ke Nigeria mempunyai kontribusi 1%-2% terhadap total penjualan, produknya KukuBima. Kemudian Malaysia sebesar 4% dengan produk KukuBima dan Tolak Angin, dan Filipina mencapai 1%-2% dengan produk Tolak Angin.

Produk Tolak Angin yang diekspor tersebut juga mempunyai pangsa pasar paling tinggi di dalam negeri, bahkan berangsur mengalami kenaikan. Pada sembilan bulan tahun 2022 mempunyai pangsa pasar sebesar 69%, kemudian sembilan bulan tahun 2023 dan 2024 masing-masingnya naik menjadi 71% dan 72%, dan saat ini masih bertahan pada level 72%. Kondisi ini memperlihatkan kalau konsumen sangat loyal pada produk yang dimiliki SIDO.

Manajemen SIDO pada tahun 2025 ini mempunyai target pertumbuhan kinerja pendapatan dan laba bersih bisa mencapai lebih dari 5%, yang akan didorong dengan penetrasi pasar perusahaan yang sebelumnya belum optimal, melakukan ekspansi di pasar internasional atau menambah jumlah ekspornya yang bisa mendorong kenaikan pendapatan, kemudian menambah portfolio produk yang cocok dengan generasi muda sehingga produknya dikenal makin luas. Meskipun kalau dibandingkan awal tahun 2025, maka saat ini ada penurunan target karena sebelumnya untuk target pertumbuhan kinerja mencapai 10%.

 

Terkait prospek tahun 2026 seharusnya juga menarik, karena cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang akan ditunda dulu hingga ekonomi bisa tumbuh 6% keatas, kemudian pemerintah juga terus mendorong penguatan daya beli masyarakat seperti pemberian pinjaman ke bank himbara sampai Rp276 triliun, stimulus ekonomi berupa bantuan langsung tunai (BLT) sekitar Rp30 triliun, kemudian tarif PPN potensinya diturunkan, dan cukai rokok yang berpotensi tidak naik. Ketika beberapa hal ini bisa mendorong daya beli masyarakat dan ekonomi, maka SIDO akan sangat diuntungkan.

Laba Rugi Q3 2025

SIDO berhasil mencatatkan kenaikan kinerja pada sembilan bulan tahun 2025, dimana pendapatannya naik 4% secara yoy dari Rp2,62 triliun menjadi Rp2,72 triliun, kemudian laba kotornya naik 4% dari Rp1,48 triliun menjadi Rp1,54 triliun, dan laba bersihnya naik 5% secara yoy menjadi Rp818,5 miliar.

Kenaikan kinerja tersebut menurut manajemen SIDO didorong oleh permintaan domestik yang stabil dan adanya kenaikan ekspor mencapai 23% yang dibahas sebelumnya. Kemudian juga didorong dengan strategi pemasaran efisien, menurunnya biaya bahan baku, dan nilai tukar yang stabil.

Jika melihat dari informasi segmen bisnisnya, pendapatan segmen jamu herbal dan suplemen mencatat kenaikan pendapatan yang didominasi secara berkelanjutan oleh kinerja Tolak Angin, dan bagusnya penjualan produk Essential Oils. Secara laba kotor turun karena margin Essential Oils lebih rendah tapi pendapatan naik tinggi, ini masih aman. Kemudian pendapatan pada segmen makanan dan minuman yang naik didorong oleh pertumbuhan yang kuat pada produk susu, kopi, dan stabilnya energy drink, dengan ada kenaikan laba kotor karena turunnya biaya bahan baku. Sedangkan farmasi untuk pendapatan dan laba kotor turun karena transisi regulasi dan penataan ulang distributor, ditambah dengan naiknya biaya kemasan.

Sedangkan kinerja posisi Q3 2025 secara qoq ada penurunan, pendapatannya turun 13% menjadi Rp900,2 miliar dari sebelumnya Rp1 triliun, kemudian laba kotornya turun 20% menjadi Rp505,6 miliar, dan laba bersih turun 41% menjadi Rp218 miliar.

Kinerja secara qoq yang turun ini sebenarnya hal yang wajar, karena dalam beberapa tahun terakhir biasanya posisi Q3 secara kuartalan ada penurunan kinerja yang kemungkinan besar terjadi karena belum masuk musim penghujan dan momen hari besar yang minim. Baru pada Q4 atau akhir tahun terjadi kenaikan kinerja karena faktor musim hujan, distributor borong produk sebelum harga produk naik awal tahun 2026, dan sebagainya.

Turunnya harga saham SIDO sejak tahun 2022 seiringan dengan kinerja perusahaan yang menurun dari tahun 2022 sampai 2023, dimana pada tahun 2022 laba bersih SIDO melemah menjadi Rp1,1 triliun karena daya beli masyarakat yang sedang kurang bagus, kemudian tahun 2023 lanjut turun karena el nino atau musim panas berkepanjangan yang membuat permintaan produk jamu herbal SIDO turun. Kemudian pada tahun 2024, kinerja SIDO mulai membaik yang mencatatkan laba bersih mencapai Rp1,17 triliun. Untuk tahun 2025 ini sendiri kami proyeksi pendapatan dan laba bersihnya stagnan atau sama dengan kinerja tahun 2024, meskipun juga tetap ada potensi kinerja pendapatan dan laba bersih tumbuh 5% yang sesuai dengan kinerja 9M 2025 dan target perusahaan.

Neraca Keuangan

Perusahaan memiliki neraca yang sangat sehat, dimana posisi Q3 2025 mempunyai kas dan setara kas yang cukup besar mencapai 20,6% dari total asetnya, dimana kas dan setara kas SIDO sebesar Rp770,8 miliar, sedangkan total aset perusahaan mencapai Rp3,74 triliun.

Dari sisi liabilitas, SIDO tidak mempunyai hutang buruk atau hutang bank dan obligasi, ini memperlihatkan kalau perusahaan mempunyai neraca yang sangat sehat, kas perusahaan sebesar Rp770,8 miliar saja sudah bisa membayar seluruh liabilitas perusahaan sebesar Rp330 miliar.

Kemudian untuk ekuitas-nya terdapat penurunan menjadi Rp3,4 triliun, yang mana hal ini sebenarnya cukup wajar karena laba bersih yang didapatkan perusahaan itu sekitar 100% dibagikan ke pemegang sahamnya berupa dividen, sehingga ekuitas-nya menurun.

Dividen dan Valuasi Harga Saham

Perusahaan selalu konsisten dalam membagikan dividen ke pemegang saham, bahkan sejak tahun 2020 untuk dividen payout ratio mencapai 90% sampai 100%, yang artinya mayoritas atau seluruh laba bersih SIDO dibagikan sebagai dividen. SIDO pada tahun buku 2024 membagikan dividen per saham sebesar Rp39, jika menggunakan harga saham saat ini yang mencapai Rp555, maka dividen yield-nya tembus 7%.

 

Sedangkan pada tahun buku 2025, kalau laba bersih perusahaan benar-benar bisa bisa menyamai kinerja tahun 2024 sebesar Rp1,17 triliun, dan dividen payout ratio-nya juga 100%, maka dividen per saham berpotensi mencapai Rp39,7, dengan harga saham Rp555 menunjukkan dividen yield sekitar 7,15%. SIDO sendiri sampai saat ini juga sudah membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp647,5 miliar yang setara Rp22 per saham, menunjukkan dividen interim yield sebesar 4% dengan harga saat ini.

 

Pembagian dividen dengan payout ratio mencapai 100% ini sebenarnya juga aman untuk keuangan SIDO, karena perusahaan mempunyai kas yang lumayan besar, serta tidak mempunyai hutang bank dan obligasi, untuk ekspansi bisnis seperti pembangunan pabrik juga belum dilakukan perusahaan karena utilisasi pabrik yang dimiliki SIDO rata-ratanya masih berada di level sekitar 50%, dimana ini menunjukkan kalau produksi SIDO belum dilakukan secara penuh, sehingga untuk ekspansi pembangunan pabrik baru belum akan dilakukan.

Dari sisi valuasi harga saham, proyeksi ROE SIDO pada tahun 2025 bisa mencapai 34,3% meskipun proyeksi untuk laba bersih tahun 2025 tetap stagnan, ini terjadi karena ekuitas perusahaan yang tadi menurun. Jika kita bandingkan dengan historinya, proyeksi ROE 2025 menjadi yang tertinggi kedua sejak tahun 2014, dimana ROE SIDO pernah mencapai level tertinggi sebesar 36,32% pada tahun 2021. Valuasi harga saham SIDO dari sisi PBV dengan harga saham Rp555 mencapai 4,88x yang jauh lebih rendah dibandingkan PBV tahun 2021 sebesar 7,47x meskipun selisih ROE tidak terlalu banyak. Kemudian untuk PER saat ini mencapai 14,22x yang menjadi level terendah sejak tahun 2014. Artinya disini harga saham SIDO dalam kondisi undervalued, karena harga saham masih dibawah tapi kinerjanya sudah berangsur membaik.

Ingin Analisis Mendalam & Strategi Investasi yang Lebih Tajam?

Dapatkan akses eksklusif ke Value Investing Mastery dan The Investor’s Portfolio untuk strategi investasi terbaik, analisis saham mendalam, serta peluang meraih bagger pertama Anda!

🔹 Analisis saham premium
🔹 Template kinerja portofolio
🔹 Kelas bulanan dengan mentor ahli

Gabung sekarang di 👉 valueinvestingmastery.id dan mulai investasi dengan lebih percaya diri! 🚀

Merupakan platform belajar Investasi tumbuh dengan tenang yang dapat di akses kapanpun dan dimanapun tanpa ribet. Dapatkan return investasi yang maksimal dengan strategi yang tepat.
The Investor

© 2025. All rights reserved

PT Indonesia Investa Origa- Tegalmulyo WB I/189B Pakuncen Wirobrajan Yogyakarta – +6285155441861