fbpx

Kasus Kerugian 100% Dalam Saham Waskita Karya

Belajar dari kasus Waskita Karya untuk meminimalisir risiko kerugian total dalam investasi saham. Baca dan temukan bagaimana memilih saham yang tepat dengan program Value Investing Mastery.

Sebelum ke pembahasannya jangan lupa download gratis ebook 5 saham undervalue yang sudah kami analisa dengan klik gambar dibawah ini. Sudah banyak orang mendapatkan manfaat dari ebook ini dan sudah terbukti banyak orang mendapatkan keungutngan return investasi dari membaca ebook ini GRATIS.

Kasus Kerugian 100% Dalam Saham Waskita Karya

Anda mungkin sedang mencari potensi keuntungan besar dalam berinvestasi di pasar saham. Tetapi pernahkah Anda mempertimbangkan dampak buruk yang dapat terjadi ketika memilih saham yang salah? Kasus kerugian total dalam investasi saham adalah sesuatu yang nyata dan terjadi pada saham Waskita Karya. Kita harus belajar dari kasus ini untuk meminimalisir risiko dan memaksimalkan keuntungan dalam berinvestasi.

Dalam memilih saham, hindari saham-saham yang berpotensi loss 100%. Loss 100% ini bukan hanya ketika harga sahamnya menurun, tetapi saat kita sebagai investor membeli saham di harga tinggi dan kemudian menurun hingga 60% dan cut loss, maka kita masih memiliki sisa modal sebesar 40%. Ketika sisa modal ini digunakan untuk membeli saham lain yang berpotensi naik 200%, maka kita masih mendapatkan keuntungan. Loss 100% ini artinya ketika saham terkena suspend, dan ketika saham terkena suspend secara otomatis kita akan kehilangan 100% tabungan karena tidak bisa melakukan penjualan.

Risiko Kerugian Total dalam Investasi Saham

Membeli saham pada harga tinggi yang kemudian mengalami penurunan hingga 60% dan melakukan cut loss, membuat kita masih memiliki sisa modal sebesar 40%. Dengan sisa modal ini, kita bisa berinvestasi pada saham lain yang berpotensi memberikan keuntungan. Namun, kerugian 100% muncul saat saham yang kita miliki terkena suspend, seperti yang dialami oleh pemegang saham Waskita Karya (WSKT). Saat saham terkena suspend, kita kehilangan 100% modal kita karena tidak bisa melakukan penjualan.

Realitas Menyakitkan dari Kasus Waskita Karya

Pada 5 Mei 2023, WSKT tidak dapat menyetorkan dana kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai agen pembayaran. Akibatnya, saham WSKT disuspend pada 8 Mei 2023, dan hal ini mengakibatkan kerugian yang sangat signifikan bagi para investor. Jumlah kerugian investor mencapai kurang lebih 1,4 Trilliun Rupiah. Selain itu, kasus korupsi yang melibatkan Direktur Utama WSKT juga semakin memperburuk kondisi perusahaan dan kepercayaan investor.

Pada tanggal 8 Mei 2023 akhirnya semua perdagangan di bursa milik WSKT diberhentikan atau disuspend sementara BEI hingga waktu belum ditentukan.

Harga saham WSKT di suspend pada level harga Rp 202 per lembar saham. Dimana sebelumnya pada tahun 2018 harga saham WSKT mencapai All Time Highnya di level harga Rp 2.800 per lembar saham. Yang menjadi pertanyaan adalah, berapa banyak uang investor yang nyangkut di saham WSKT.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, jumlah saham yang dimiliki oleh masyarakat sebanyak 7,1 Miliar atau sebesar 24,6%. Apabila kita hitung jumlah saham yang dimiliki masyarakat sebesar 7,1 Miliar dan kita kalikan dengan harga saham saham WSKt saat ini maka uang investor yang nyangkut di saham WSKT senilai kurang lebih 1,4 Trilliun Rupiah. Tidak hanya itu saja, pasar obligasi WSKT juga terkena suspend. Tidak hanya karena penundaan pembayaran kewajiban kepada kreditur yang akhirnya WSKT terkena suspend. Ada Nasib buruk lainnya yang sedang dihadapi oleh WSKT.

Tidak lama sebelum saham WSKT terkena suspend. Dirut WSKT menjadi tersangka korupsi yang merugikan negara sebesar 2,5 Trilliun Rupiah. Sebenarnya kasus korupsi yang menimpa dirut WSKT ini terjadi saat menjabat sebegai dirut anak usaha WSKT yaitu saat menjadi dirut WSBB atau Waskita beton. Selain Dirut WSKT, Kejaksaan Agung menetapkan 8 orang tersangka lainnya dari Waskita Beton.

Dari laporan keuangan terbaru WSKT, total obligasi kurang lebih sebesar 11 Triliun Rupiah. Pemilik obligasi WSKT yang pertama adalah para investor ritel, kedua manajer investasi yang dikemas menjadi reksadana. Sehingga para investor yang memiliki posisi pada reksadana yang didalamnya ada obligasi dari WSKT kemungkinan pasti adanya penurunan. Kemudian yang ketiga adalah para industri asuransi.

Dengan kondisi Waskita beton atau WSBP yang amburadul, pada awal tahun 2023 lalu perdagangan saham WSBP sempat di berhentikan sementara. Setalah perdagangan dibuka Kembali, bukannya naik namun harga sahamnya malah turun hingga di level harga 50. Selain itu BEI juga mencurigai bahwa adanya manipulasi pada laporan keuangan yang dibuat oleh WSKT.

Apabila kita lihat dari rasio utang atau DER, WSKT pernah memiliki DER sebesar 2031% pada tahun 2020, kemudian pada tahun 2021 hingga saat ini, rasio DER WSKT konsisten di level 670% hingga 690%.

Jika ingin investasi yang selalu tumbuh, pilihlah saham yang tepat dengan kondisi neraca perusahaan yang sehat, dengan tidak ada potensi gagal bayar.

Menyelamatkan Investasi Anda dengan Pemilihan Saham yang Tepat

Berdasarkan kasus di atas, jelas bahwa pemilihan saham yang tepat adalah kunci utama dalam berinvestasi di pasar saham. Anda harus memilih saham perusahaan yang memiliki neraca keuangan yang sehat dan tidak memiliki potensi gagal bayar. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang kondisi keuangan dan operasional perusahaan akan membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik dan menghindari kerugian besar.

Bergabung dengan Program Value Investing Mastery

Untuk membantu Anda dalam memilih saham yang tepat, kami menawarkan program Value Investing Mastery. Dalam program ini, Anda akan belajar bagaimana memilih saham dengan analisis yang mendalam dan membuat keputusan investasi yang lebih baik. Jangan biarkan kasus Waskita Karya terjadi pada Anda. Mulailah langkah Anda menuju kesuksesan investasi dengan bergabung dalam program kami. Klik gambar di bawah ini untuk mendaftar sekarang!

[disclaimer: Investasi melibatkan risiko. Silakan lakukan riset dan konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.]

Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter