Daftar Isi
Toggle
Harga emas dalam setahun terakhir mengalami kenaikan signifikan sekitar 37% setelah mengalami penurunan cukup signifikan imbas konflik Timur Tengah. Secara year to date emas mengalami kenaikan sekitar 5%, meskipun pada akhir Januari 2026 lalu sempat menyentuh level tertingginya di level $5.600 per troy ons kemudian terkoreksi hingga dibawah level $5.000 per troy ons. Memasuki bulan Februari 2026 harga emas kembali naik hingga menyentuh di level $5.200 per troy ons.
Pada bulan Maret 2026, awal terjadinya kembali konflik Iran dengan AS-Israel membuat harga emas ambruk cukup dalam, dari level $5.300 per troy ons sempat menyentuh di level $4.100 per troy ons atau turun sekitar 23% dalam rentang waktu kurang dari satu bulan. Hingga akhirnya kembali naik di level $4.500-an per troy ons seiring dengan upaya-upaya diplomatik dan optimisme gencatan senjata AS untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Pemicu awal kejatuhan harga emas, yaitu imbas dari konflik Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel. Konflik ini bukan konflik geopolitik biasa, namun konflik ini yang membuat jalur perdagangan minyak global paling krusial, yaitu Selat Hormuz terancam di tutup. Padahal selat tersebut setiap harinya dilewati sekitar 20 juta barel atau hampir 20% dari total konsumsi minyak global. Wajar jika jalur perdagangan tersebut terganggu dan terjadi disrupsi pasokan akhirnya membuat harga minyak melambung tinggi.
Terlihat efek perang tersebut langsung direspon oleh melambungnya harga minyak yang sangat signifikan baik Minyak Brent maupun WTI, dan masing-masing harganya sudah sempat menyentuh lebih dari $100 per barel. Dari titik inilah awal mula kejatuhan harga emas berlangsung.
Ketika harga minyak naik, hal ini meningkatkan permintaan global terhadap dolar, karena energi diperdagangkan dalam USD yang membuat dolar mengalami kenaikan dan menghukum harga emas.
Pada waktu yang bersamaan, Jerome Powell memberi sinyal sikap lebih hawkish dari The Fed, bahwa inflasi bisa kembali meningkat. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada Bulan Mei anjlok tajam dari 60% menjadi hanya 16%. Ketika ekspektasi suku bunga cenderung meningkat hal ini memberikan tekanan tambahan untuk harga emas karena emas sendiri aset yang tidak memberikan imbal hasil, artinya memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
Selain itu terjadi perubahan cara pandang emas, awal ceritanya bermula sejak perubahan besar pada tahun 2022, dimana pada saat itu, akibat konflik Rusia dengan Ukraina negara-negara barat membekukan aset Rusia sekitar US$300 miliar. Peristiwa ini menjadi titik balik cara negara dalam memandang emas.
Semenjak kejadian itu, negara-negara dengan surplus perdagangan, terutama China, mulai melihat emas sebagai aset cadangan yang aman. Karena meyakini bahwa emas fisik tidak bisa disita secara sepihak oleh negara lain.
Terlihat sejak tahun 2022 China konsisten menambah cadangan emas, bahkan pembelian emas cukup agresif terutama dari akhir 2022 sampai 2023. Pada periode itu, pembelian bulanan sempat berada di kisaran belasan hingga lebih dari 30 ton per bulan. Sampai awal tahun 2026 China masih terus mengakumulasi emas, hingga per Februari 2026 total cadangan emas China sudah mencapai 2.309 ton. Porsi emas China dalam cadangan devisa juga naik signifikan ke 10%.
Keadaan menjadi berbeda di saat konflik Timur Tengah terjadi. Akumulasi cadangan emas bergantung pada surplus perdagangan. Dan surplus bisa terjadi ketika aktivitas ekonomi dan perdagangan global berjalan lancar. Jika jalur krusial energi tersebut Selat Hormuz terganggu menjadikan aktivitas perdagangan global melambat, surplus negara seperti China menyusut, dan kemampuan membeli emas pun ikut menurun. Hal ini juga yang membuat harga emas secara demand menjadi berkurang dan akhirnya terkoreksi cukup dalam.
Kejatuhan harga emas tersebut berimbas juga pada saham-saham komoditas emas, seperti ARCI, ANTM, HRTA, yang turut mengalami koreksi. Walaupun secara year to date saham-saham tersebut mengalami pergerakan cukup bervariatif, seperti ARCI mengalami penurunan sekitar 7,9% Ytd, ANTM mencatat kenaikan sekitar 12,5% Ytd, dan HRTA mencatat kenaikan sekitar 11% Ytd.
Namun secara tahunan saham-saham tersebut, seperti ARCI, ANTM, HRTA sudah mengalami kenaikan yang signifikan masing-masing naik sekitar 468%, 110%, dan 400% yang sejalan juga dengan kenaikan emas yang masif dalam satu tahun terakhir, berada diatas 35% setelah kejatuhannya kemarin.
Dapatkan akses eksklusif ke Value Investing Mastery dan The Investor’s Portfolio untuk strategi investasi terbaik, analisis saham mendalam, serta peluang meraih bagger pertama Anda!
🔹 Analisis saham premium
🔹 Template kinerja portofolio
🔹 Kelas bulanan dengan mentor ahli
Gabung sekarang di 👉 valueinvestingmastery.id dan mulai investasi dengan lebih percaya diri! 🚀