fbpx

Diversifikasi vs Konsentrasi Portfolio: Mana yang Lebih Baik?

Pelajari perbedaan antara diversifikasi dan konsentrasi portfolio dalam investasi. Temukan mana yang lebih menguntungkan dan bagaimana cara melakukan diversifikasi yang tepat. 

Sebelum ke pembahasannya jangan lupa download gratis ebook 5 saham undervalue yang sudah kami analisa dengan klik gambar dibawah ini.

DIVERSIFIKASI ATAU KONSENTRASI PORTFOLIO?

Pandangan mengenai diversifikasi dan konsentrasi, lalu apakah kita dalam menyusun portfolio lebih baik diversifikasi atau terkonsentrasi. Sebelum ke pembahasannya jangan lupa like, share dan follow kami serta download E-book Watchlist kami klik link di bio.

Diversifikasi dan konsentrasi, keduanya menjadi perdebatan investor, dimana 2 metode ini memiliki fungsi yang berbeda. Kita mulai dari portfolio yang terkonsentrasi, contoh ekstremnya hanya pegang 1 saham saja. Misalkan 1 saham ini naik 100% dalam 1 tahun. Maka portfolio kita tahun tersebut juga naik 100%. Berbeda dengan portfolio diversifikasi, saat membeli 10 saham, semisal 9 sahamnya tidak naik dan yang mengalami kenaikan hanya 1 saham saja dengan kenaikan 100% dalam 1 tahun. Maka dalam 1 tahun ini, kinerja portfolio kita naik secara keseluruhan hanya 10% saja.

Jika dibalik, bagaimana kalau saham yang naik 100% tadi, justru turun 50%. Jadi case pertama yang konsentrasi portfolio, pegang 1 saham dan turun 50% dalam 1 tahun kedepan, maka portfolio kita juga turun 50%. Karena portfolio kita hanya tergantung sama 1 saham tersebut saja. Case yang kedua yaitu diversifikasi portfolio, kita punya 10 saham, 9 sahamnya tidak bergerak harga sahamnya, dan 1 sahamnya turun 50% dalam 1 tahun kedepan, maka yang terjadi kinerja portfolio kita turunnya hanya 5% saja.

Read More  Investasi CPO 2023: Bursa CPO Indonesia dan Potensinya

Ada 2 fungsi yang berbeda, bagi seorang investor yang memiliki portfolio terkonsentrasi, mereka memiliki tujuan dan lebih berharap untuk memaksimalkan profit. Sedangkan diversifikasi, mereka memiliki tujuan untuk meminimalisir risiko. Maka dengan 2 fungsi yang berbeda antara 1 investor dengan investor yang lain pasti mempunyai pemikiran yang bebeda.

The Investor sendiri memilih diversifikasi portfolio. Dan supaya kita bisa selalu beat the market, maka dalam melakukan diversifikasi itu ada caranya, dan tidak asal membeli saham.

  1. Tips:
    Memilih saham yang kita paham bisnis, kinerja dan valuasinya. Jadi bukan hanya memilih saham, tapi juga pilih bisnis yang bagus dengan kinerja bagus, disertai valuasi yang murah, maka potensi kenaikan di masa depan itu sangat bagus.
  2. Membeli saham di 3 sektor yang berbeda. Karena kita tidak mengetahui sektor mana yang akan naik. Karena kita tidak mengikuti perkembangan makro setiap saat, atau tidak mengetahui sentimen mana yang membuat sektor tertentu naik duluan. Maka lebih baik memilih 3 sektor yang berbeda.
  3. Menghindari membeli saham dengan porsi diatas 25%, dan dibawah 5%. Tujuannya supaya tidak tergantung pada 1 saham saja. Jadi kalau memiliki saham porsi diatas 25%, kinerja portfolio lebih banyak tergantung dengan 1 saham tersebut, jadi lebih memilih untuk dibawah 25% secara porsinya. Tapi juga tidak dibawah 5%, karena jika nanti harga saham naik 100%, impact pada kinerja portfolio tidak signifikan.

Dengan tips tersebut, The Investor bisa membuktikan bahwa kinerja portfolio dari tahun 2020 sampai posisi bulan maret 2023 ini sudah naik sekitar 66%, dan masih optimis di sepanjang tahun 2023 ini kinerja portfolio juga akan naik lebih tinggi lagi.

Untuk mengetahui secara advance tentang bagaimana cara mencari saham saham yang berpotensi bagger atau mengetahui cara berinvestasi tumbuh dengan tenang tanpa mantengin chart tiap hari. silahkan klik gambar dibawah. Akan kami beritahu bagaimana caranya! 

Read More  Identifikasi Saham Berpotensi Gagal Bayar, Contoh Kasus pada Saham WSKT (Waskita Karya)
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter
Picture of Erose Perwita

Erose Perwita

Author | Founder theinvestor.id