Daftar Isi
Toggle
Sampai dengan bulan Juni 2026, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuannya atau BI Rate menjadi 5,75%. Menariknya, kenaikan ini terjadi cukup agresif karena dalam bulan Juni saja BI sudah menaikkan suku bunga sebanyak 2x. Pertama dari 5,25% menjadi 5,50%, kemudian naik lagi menjadi 5,75%.
Kalau ditarik sedikit ke belakang, BI Rate sudah naik dari 4,75% menjadi 5,75% dalam waktu kurang lebih 2 bulan. Artinya ada kenaikan sekitar 100 bps.
Tentu saja ini bukan kenaikan yang biasa – biasa saja. Karena biasanya bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif kalau kondisi ekonomi dan pasar keuangan sedang baik – baik saja. Apalagi kenaikan kali ini terjadi saat Rupiah cukup tertekan, market masih volatile, dan kondisi geopolitik global juga belum stabil.
Pertanyaannya, kenapa BI harus menaikkan suku bunga? Dan sebagai investor saham, apa yang perlu kita perhatikan?
Oke, kita bahas.
Secara sederhana, alasan utama BI menaikkan suku bunga adalah untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Ketika Rupiah melemah terlalu dalam, maka ada beberapa risiko yang bisa muncul. Barang impor menjadi lebih mahal, biaya bahan baku perusahaan bisa naik, perusahaan yang punya utang USD bisa terkena tekanan selisih kurs, dan jika pelemahan Rupiah dibiarkan terlalu lama, maka bisa merembet ke inflasi.
Jadi kenaikan suku bunga kali ini lebih tepat dibaca sebagai langkah defensif BI ingin menjaga agar Rupiah tidak melemah terlalu jauh.
Cara kerjanya kurang lebih begini. Ketika suku bunga BI naik, maka instrumen keuangan berbasis Rupiah seperti SBN atau SRBI menjadi lebih menarik. Harapannya, dana asing kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Kalau dana asing masuk, permintaan terhadap Rupiah naik. Dan kalau permintaan Rupiah naik, tekanan terhadap Rupiah bisa berkurang.
Jadi tujuan utamanya bukan untuk membuat ekonomi melambat, tapi untuk menjaga stabilitas.
Sering kali ketika mendengar suku bunga naik, investor langsung berpikir negatif. Padahal tidak selalu begitu.
Dalam kondisi Rupiah melemah, kenaikan suku bunga justru bisa menjadi langkah yang diperlukan agar masalahnya tidak melebar kemana – mana.
Sisi positif pertama, Rupiah bisa lebih stabil. Ini penting karena Indonesia masih banyak mengimpor barang modal, bahan baku, spare part, BBM, mesin, obat – obatan dan berbagai kebutuhan industri lainnya. Kalau Rupiah melemah terlalu dalam, biaya impor naik dan ujungnya bisa menekan inflasi.
Sisi positif kedua, kepercayaan investor asing bisa lebih terjaga. Di tengah kondisi global yang tidak pasti, investor asing biasanya mencari negara yang masih memberikan yield menarik dengan risiko yang masih bisa diterima. Kalau yield Indonesia dianggap menarik, maka dana asing akan masuk. Dan kalau dana asing masuk, maka Rupiah akan menguat dan bisa berefek positif pada pasar obligasi dan pasar saham kita.
Sisi positif ketiga, BI memberi sinyal bahwa mereka tidak tinggal diam. Dalam kondisi market yang sensitif, sinyal seperti ini penting karena investor butuh melihat bahwa otoritas moneter siap menjaga stabilitas.
Walaupun ada sisi positif, kenaikan suku bunga tetap punya risiko.
Dampak pertama adalah biaya dana perbankan bisa naik. Ketika BI Rate naik, bunga deposito biasanya ikut naik. Jika bunga deposito naik, cost of fund bank juga ikut naik. Pada akhirnya, bunga kredit bisa ikut naik.
Dampak kedua, konsumsi dan investasi bisa melambat. Saat bunga pinjaman naik, orang akan berpikir ulang untuk mengambil KPR, kredit kendaraan, kredit konsumsi, atau pinjaman usaha. Perusahaan juga bisa menunda ekspansi karena biaya pendanaan menjadi lebih mahal.
Dampak ketiga, beban bunga emiten bisa naik. Ini yang paling penting untuk kita perhatikan sebagai investor saham.
Emiten yang punya utang besar, terutama utang berbunga floating rate, bisa mengalami kenaikan beban bunga. Kalau beban bunga naik, laba bersih bisa tertekan. Apalagi kalau kenaikan beban bunga tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan dan arus kas operasi.
Jadi dampaknya tidak bisa disamaratakan. Semua tergantung struktur neraca masing – masing emiten.
Menurut kami, emiten yang paling perlu diperhatikan adalah emiten yang punya utang besar, arus kas operasinya tidak stabil, sedang ekspansi agresif, dan marginnya tipis.
Biasanya sektor yang cukup sensitif terhadap kenaikan suku bunga adalah properti, konstruksi, pembiayaan, consumer, dan emiten dengan leverage tinggi.
Properti sensitif karena pembelian rumah banyak bergantung pada KPR. Kalau bunga KPR naik, daya beli masyarakat bisa turun. Kalau daya beli turun, marketing sales developer bisa melambat.
Konstruksi juga sensitif karena biasanya butuh modal kerja besar dan siklus pembayaran proyeknya panjang. Kalau biaya pinjaman naik sementara pembayaran proyek lambat, tekanan arus kas bisa semakin besar.
Tapi sekali lagi, tidak semua emiten akan terdampak buruk. Emiten yang punya kas besar, utang kecil, arus kas kuat, dan pricing power bagus tentu lebih aman. Bahkan beberapa emiten bisa diuntungkan, misalnya emiten dengan posisi kas besar atau eksportir yang mendapatkan keuntungan dari pelemahan Rupiah.
Paling tidak ada 3 hal utama yang perlu kita cek.
Pertama, cek struktur utang. Jangan hanya lihat total liabilitas, tapi lihat utang berbunga seperti pinjaman bank dan obligasi. Perhatikan juga apakah utangnya jangka pendek atau jangka panjang.
Kedua, cek kualitas arus kas. Laba bersih itu penting, tapi dalam kondisi suku bunga naik, arus kas operasi jauh lebih penting. Karena bunga dibayar pakai cash, bukan pakai laba akuntansi.
Ketiga, cek capex dan ekspansi. Ekspansi itu bagus kalau dibiayai dari arus kas yang sehat. Tapi kalau ekspansi terlalu agresif dan banyak dibiayai utang mahal, maka risikonya akan meningkat.
Kenaikan BI Rate ke 5,75% bukan sesuatu yang perlu disikapi dengan panik. Tapi jelas ini adalah sinyal bahwa kondisi Rupiah dan pasar keuangan sedang tidak biasa – biasa saja.
BI menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas Rupiah, menarik kembali dana asing, dan mencegah tekanan inflasi agar tidak semakin besar.
Bagi investor saham, tugas kita bukan menebak arah suku bunga harian. Tugas kita adalah memastikan emiten yang kita pegang punya fundamental yang cukup kuat untuk melewati fase bunga tinggi.
Cek utangnya.
Cek arus kasnya.
Cek beban bunganya.
Cek rencana ekspansinya.
Karena pada akhirnya, suku bunga hanyalah salah satu faktor dalam perjalanan investasi. Yang jauh lebih penting adalah apakah bisnis yang kita pegang masih bisa tumbuh, menghasilkan cash, menjaga neraca tetap sehat, dan bertahan melewati siklus ekonomi.
Kalau fundamentalnya kuat, kenaikan suku bunga bisa jadi hanya tekanan sementara. Tapi kalau fundamentalnya lemah, utangnya besar, cashflow-nya jelek, dan ekspansinya terlalu agresif, maka kenaikan suku bunga bisa membuka risiko yang selama ini mungkin belum terlihat.
Dan seperti biasa, dalam jangka pendek harga saham bisa bergerak kemana saja. Tapi dalam jangka panjang, harga saham akan mengikuti fundamentalnya.
Dapatkan akses eksklusif ke Value Investing Mastery dan The Investor’s Portfolio untuk strategi investasi terbaik, analisis saham mendalam, serta peluang meraih bagger pertama Anda!
🔹 Analisis saham premium
🔹 Template kinerja portofolio
🔹 Kelas bulanan dengan mentor ahli
Gabung sekarang di 👉 valueinvestingmastery.id dan mulai investasi dengan lebih percaya diri! 🚀