fbpx

Analisis Harga dan Kinerja 3 Saham Yang Terdampak Lonjakan COVID

Telusuri dampak lonjakan kasus COVID-19 pada harga saham SIDO, KAEF, dan INAF. Analisis mendalam dengan fokus pada kinerja finansial dan peluang investasi jangka panjang

Sebelum ke pembahasannya jangan lupa download gratis ebook 5 saham undervalue yang sudah kami analisa dengan klik gambar dibawah ini. Sudah banyak orang mendapatkan manfaat dari ebook ini dan sudah terbukti banyak orang mendapatkan keuntungan return investasi dari membaca ebook ini GRATIS.

Bulan Desember ini kita di kejutkan dengan adanya berita mengenai varian baru covid-19. Kementerian Kesehatan RI juga mengatakan adanya lonjakan kasus covid-19 di Indonesia, ditambah dengan melonjaknya kasus pneumonia di Indonesia pada penghujung tahun 2023 ini, kemudian tidak hanya dari dalam negeri saja, tetapi negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia juga terdapat lonjakan kasus covid-19. Dengan adanya lonjakan kasus tersebut membuat beberapa emiten kesehatan di Indonesia mengalami kenaikan harga sahamnya, apa saja sahamnya? dan bagaimana kinerja terbarunya? Dalam artikel ini kami akan membahas mengenai 3 saham kesehatan yang terdampak dengan adanya kasus COVID.

1. Kimia Farma atau dengan Kode saham KAEF

KFC atau PT Fastfood Indonesia dengan kode saham FAST. Kita lihat pergerakan harga sahamnya secara jangka panjang. Sejak tahun 2019 harga saham FAST berada dalam fase downtrend, dimana pada tahun 2019 sempat menyentuh level harga Rp 1.400/lembar saham, kemudian terjadi pandemi covid-19 akhirnya harga sahamnya turun. Pasca pandemi covid-19 harga saham FAST malah semakin turun hingga akhirnya pada bulan Oktober saat dimulainya aksi boikot produk support Israel harga saham FAST turun 6,25%. Pada saat  artikel ini ditulis, harga saham FAST sedang berada di level Rp 745/lembar saham. Pada level harga Rp 745/lembar saham secara YTD harga sahamnya sudah turun 9% dengan valuasi PBV sebesar 3,28x dan PER -21,31x.

Read More  Mengenal Batasan Auto Reject Bawah (ARB) dan Perubahan Jadwal Perdagangan di Bursa Efek Indonesia

Kemudian kita masuk kedalam kinerjanya. Apabila kita lihat kinerja terbaru dari FAST yaitu kinerja kuartal ketiga tahun 2023 ini, FAST membukukan kenaikan pendapatan sebesar 7%  dari 4,3 triliun menjadi 4,6 triliun. kemudian laba bruto juga mengalami kenaikan sebesar 7% dari 2,6 triliun menjadi 2,8 triliun. Namun kinerja bottom line FAST masih mengalami kerugian, bahkan kerugian nya naik sebesar 788% dari rugi 17 miliar menjadi 152 miliar. Kerugian ini terjadi karena besarnya beban penjualan dan distribusi ditambah dengan naiknya beban umum dan administrasi.

 

2. Pizza Hut atau PT Sarimelati Kencana dengan kode saham PZZA

Apabila kita lihat harga saham KAEF, sepanjang bulan Desember sudah naik kurang lebih 35%, namun secara YTD harga saham KAEF turun 12%. Kenaikan harga saham di bulan Desember ini salah satunya dipengaruhi oleh adanya sentimen kenaikan kasus covid-19 dan pneumonia. Jika kita lihat kebelakang, pada tahun 2020 hingga 2021 lalu harga saham KAEF rally hingga akhirnya menyentuh harga all time high-nya mencapai level harga Rp 7.500/lembar saham. Dan setelah sentimen tersebut sudah habis harga sahamnnya kembali turun, hingga artikel ini ditulis harga saham berada di level Rp 955/lembar saham dengan valuasi PBV 0,6x dan PER -26%. Lalu bagaimana kinerja KAEF terbaru? 

Berdasarkan laporan keuangan terbaru per kuartal 3 tahun 2023, KAEF membukukan kenaikan kinerja pendapatan sebesar 8% dari Rp 7,1 triliun menjadi Rp 7,7 triliun. Laba bruto KAEF juga mengalami kenaikan sebesar 12% dari Rp 2,5 Triliun menjadi Rp 2,8 triliun. Walaupun kinerja pendapatan dan laba bruto mengalami kenaikan, namun KAEF masih mengalami kerugian, dari rugi 180 miliar menjadi 177 miliar atau turun 2%. Naiknya beban keuangan merupakan salah satu penyumbang kerugian.

 

2. Indofarma dengan kode saham INAF.

Sama seperti KAEF, setelah berita mengenai adanya lonjakan kasus covid-19 dan juga pneumonia di Indonesia rilis, harga saham INAF sempat naik. Sepanjang bulan Desember harga saham INAF naik kurang lebih 9%. Namun harga saham INAF secara YTD masih turun sebanyak 54%. Sama seperti KAEF, pada tahun 2020-2021 lalu harga saham INAF mampu menyentuh level harga Rp 7.300/lembar saham, di mana harga tersebut adalah harga all time high-nya. Hingga artikel ini ditulis, harga saham INAF berada di level Rp 525/lembar saham dengan valuasi PBV -15,4x dan PER -6,3x. Kemudian bagaimana dengan kinerja dari INAF?

Read More  PROSPEK SAHAM WEHA: PROYEKSI dan PROSPEK MENJAJIKAN?

Kinerja INAF per kuartal 3 tahun 2023 menurut kami kurang bagus, dimana kinerja pendapatan INAF turun cukup banyak yaitu 51%. Dimana pendapatan dari Rp 904 miliar turun menjadi Rp 445 miliar, sehingga laba bruto INAF juga turun cukup signifikan yaitu turun 87% dari Rp 76 miliar menjadi Rp 10 miliar. Penurunan tersebut mengakibatkan INAF menambah kerugian pada kuartal 3 tahun 2023 ini menjadi rugi 191 miliar dari sebelumnya rugi 183 miliar.

 

3. Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul dengan kode saham SIDO

Dilihat dari histori harga sahamnya, sejak tahun 2018 hingga 2022 harga saham SIDO konsisten naik hingga pada tahun 2022 mencapai all time high-nya menyentuh level harga 1070. Kemudian setelah itu harga saham SIDO turun hingga menyentuh level harga Rp 478/lembar saham pada bulan November 2023 lalu. Pada bulan Desember rilis berita mengenai lonjakan kasus covid-19 dan pneumonia di Indonesia membuat harga saham SIDO naik kurang lebih 6% sepanjang bulan Desember. Namun secara YTD harga saham SIDO turun sebesar 30%. Hingga artikel ini di tulis harga saham SIDO berada di level Rp 530/lembar saham. Harga Rp 530/lembar saham valuasi PBV SIDO sebesar 4,67x dengan PER 16x.

Kinerja SIDO per kuartal 3 tahun 2023 mengalami penurunan. Dari kinerja pendapatan turun sebesar 10% dari Rp 2,6 triliun menjadi Rp 2,3 triliun. Laba kotor SIDO juga turun 9% dari Rp 1,3 triliun menjadi Rp 1,2 Triliun. Sehingga laba bersih SIDO juga mengalami penurunan sebesar 10% dari Rp 720 miliar menjadi Rp 586 miliar.

 

Meskipun KAEF dan INAF mengalami kenaikan harga saham dalam respon terhadap sentimen pasar, secara kinerja KAEF dan INAF masih dalam kondisi mengalami kerugian. Sehingga kenaikan harga saham KAEF dan INAF menurut kami hanya sesaat karena adanya sentimen yang direspon market. Perlu diketahui setelah sentimen itu habis, market akan kembali menghargai suatu saham sesuai dengan kondisi fundamentalnya.

Read More  Proyeksi & Analisis Penjualan Mobil: Otomotif Indonesia 2023

Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan program Value Investing mastery kami, klik gambar di bawah untuk memulai perjalanan investasi Anda dan raih keberhasilan investasi yang berkelanjutan.

Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter