fbpx

Analisa Fundamental secara mendalam Emiten “WOOD” | The Investor

Artikel kali ini kita akan membahas WOOD yang merupakah Produsen produk kayu terbesar di Indonesia yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang membuat perusahaan ini tidak terlalu terpengaruh dengan fluktuasi pembelian bahan baku dari harga kayu berjangka (Lumber), dikarenakan perusahaan memiliki ijin Usaha memiliki Kehutanan sendiri, akan tetapi sebenarnya miliki kehutanan sendiri tidak mudah loh.
dalam podcast Pak Halim Rusli bersama Hermanto tanoko, pak Halim mengatakan sangat komplek masalah memiliki Kehutanan sendiri yang mana kita ketahui di saat melakukan penebangan pohon harus melakukan pemindahan pohon/kayu yang besar tadi dari hutan ke pabrik masalahnya ialah di saat musim hujan pengangkutan darat (Logging ) ke Tug boat terkendala oleh jalan yang hancur bahkan berpotensi tidak bisa melakukan lewat yg ber akibat pohon/kayu yang di tebang tersebut tidak bisa di lanjutkan ke tug boat agar di olah. Setelah jalan sudah bagus kembali  atau musim panas kendalanya berbalik dari awalnya jalan untuk pengangkutan darat (Looging) ini yang terkendala sekarang masalahnya di tog boat untuk pengiriman dari sungai ke tempat produksi (pabrik).

Ini lah masalah yang akan menjadi problem WOOD dalam ketersedian bahan baku sendiri oleh karnanya WOOD ini tetap membeli kayu bulat di luar perusahaan juga agar memenuhi kebutuhan konsumen.

                Ok kita lanjut ke masalah berikutnya di saat ini yaitu kelangkaan kontainer, yang mana kita ketahui bahwa pengiriman WOOD ini dominan ke Amerika yang merupakan Negara Importir Furniture terbesar di Dunia sekitar 12-15 Miliar USD Pertahun atau setara 174-225 T Rupiah pertahun, Masalah Kontainer ini bukan hanya di Indonesia akan tetapi Semua Negara artinya Cost dari Ekspor amerika meningkat bagaimana startegi WOOD ini agar tidak mengalami masalah terhadap pengiriman ? dalam PUBEX agustus 2021 menegement mengatakan bahwa perseroan bekerjasa dengan beberapa shipping Lines dan berusaha membantu Costumer nya dengan menggunakan bantuan berupa Shipping Terms seperti CIF seperti Biaya Shipping di tanggung WOOD lalu di invoice kan ke costumes di dalam Penjualan, jujur dalam jangka pendek hal ini tidak bagus dikarenakan setelah saya lihat di Balance sheet perusahaan ini tidak terlalu kuat dimana Cash perusahaan tidak cukup tebal akan tetapi dalam jangka panjang hal ini tentu sangat bagus dikarenakan menambah loyal nya costumers ke WOOD tentunya hal ini lah menjadi dilema sebagai investor dikala bagusnya demand pembelian Furniture.

                Ok lanjut ke Dilema berikutnya yaitu kondisi Amerika sekarang yang sedang di landa Inflasi tinggi sampai sampai 2 kuartal berturut2 GDP Amerika negatif atau disebut Resesi, oleh karena itu terjadi sentimen negatif bagi investor WOOD yang memperkirakan akan susah terjual cadangan barang jadi berupa Furniture dari emiten tersebut tetapi apabila kita membaca dari Pubex bahwa saat ini Amerika juga melakukan perang dagang ke Amerika bahkan sampai melakukan Bea masuk Anti dumping/ sanksi biaya masuk tambahan (BMAD) dan Counter Vailing duty/Anti subsidi (CDV) terhadap China dari 2018 sampai sekarang yang berakibat China sudah mengurangi Ekspornya ke Amerika besar besaran dari awalnya mengirim Milwork 365 Juta USD di 2018 sekarang 2021 menjadi 142 Juta USD atau turun 250 % setelah perang kebijakam tersebut, tentunya saya merasa Q2 WOOD ini bukanya menurunya Volume akan tetapi menurunya ASP (Average Selling Price, setelah saya cari tahu ternyata benar hal nya bahwa ASP di Q1 2022 ialah 14,5 Juta per m3 dari penjualan 1,44 T BC dan di Q2 7,16 Juta per m3 dari penjualan 710 Miliar BC dengan Volume penjualan sama sama 99 Ribu CBM mungkin angkanya tidak lah sangat tepat akan tetapi hal ini bisa dilihat dari LK perusahaan Q1 dan Q2 bahwa persedian tidak terlalu banyak berubah, nah mengenai sebelumnya yaitu dilema investor WOOD harusnya tidak terlalu kuatir Q3 harusnya lebih ke penurunan ASP juga hal ini terlihat di Index Lumber yang ada di Treding Economic. Akan tetapi agar lebih aman harus menunggu Q3 untuk memastikan benar benar terjadi, masalah sebenarnya dari WOOD ini adalah ???
                Lamanya cas diterima perusahaan setelah membayar ke supplier (CCC) yang sangat lama dari awal 2019 – 432 Hari / 14.4 Bulan dan 2021 – 265 Hari / 8.8 Bulan tentunya angka ini sangat lama yang membuat Cash Flow perusahaan sering Negatif walaupun Perseroan terlihat sudah menurunkan 5.6 Bulan, setelah dilakukan Breakdown tentunya angka ini dari Lama nya Inventory digudang.

Tentunya hal ini lah juga menjadi ke kekawatiran Investor dimana Cash perusahaan tidak begitu tebal ditambah adanya hutang perusahaan yang cukup besar di kisaran 2.5 T atau dengan ratio DER 69.23 %, untungnya management sudah melakukan pergantian dari hutang Bank menjadi Hutang Obligasi.

Apa sih ke untungan yang bisa di manfaatkan dari Wood ini ? yaitu peningkatan 20% produksi Building Component berdekatan dengan bahan baku nya yang tentunya mempermurah biaya dan satu lagi seperti kita bahas sebelumnya yaitu ke khawatiran global inflasi ini tidak terlalu dipusingkan oleh WOOD dari hasil pertanyaan saya ke Investor Relations WOOD pak Wendi yaitu dengan ketersedian bahan baku domestik yang berlimpah  tentunya perseroan dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dibanding Regional Competitornya sehingga meningkatkan penjualan perseroan ditambah pembelian Bahan baku ini menggunakan IDR sedangkan penjualan menggunnakan USD, dengan ini mendapatkan selisih keuntungan nilai tukar USD ke Rupiah. Apa lagi yang meyakinka saya bahwa saat ini WOOD tidak dalam masalah besar ? yaitu Persedian Barang jadi hanya naik 6% sedangkan Penjualan Quarter n Quarter Q2 2022 growth 46% tentunya belum ada indikasi bahwa perusahaan dalam masalah penumpukan bahan baku.

Tentunnya kita wajib menunggu konfirmasi terakhir yaitu Q3 2022 di saat Amerika benar benar terpuruk di Q3 ini, dari sini kita bisa putuskan apakah Perseroan benar benar tidak menumpuk Persedian dan bisa memakan Market Share maupun yang di katakan Investor Relations Wood terkait ke khawatiran Global Inflasi.

mungkin Kita bisa jadikan WOOD ini hanya menjadi Watchlist kita.

Only Time Will Tell.

 

Happy Reading J

Picture of Erose Perwita

Erose Perwita

Author | Founder theinvestor.id